Jalanku Masih Abu-Abu

  • Jika aku akan berkata, maka akan terucap semua dustamu.
  • Aku hanya menghancurkan apa yang harus dihancurkan, dan bila sudah tercapai, itulah saat dimana aku akan memerintah segalanya.
  • Aku hanya menyalahkan apa yang menjadi keharusanku.
  • Aku hidup hanya untuk diriku dan Tuhan, bukan untuk orang lain.
  • Tidak ada alasan aku berpijak di depanmu pada waktu itu.
  • Saat aku bertemu dengan dia, aku dapat artikan pencerahan dalam diri.
  • Kemanapun aku ingin berlari, disanalah aku akan pergi menggapai segala-Nya.
  • Aku di sini terdiam sambil menantikan jawaban atas segala ciptaan-Nya.
  • Aku hanya dapat melihat makhluk-makhluk ciptaan sang sempurna yang terus menuai dosa.
  • 50 tahun sang dosa putih terkubur, apakah sekarang waktu dia kembali meraih udara dengan jari jemarinya?
  • Pen, alat untuk menulis, Tidak! Lebih pas untuk mengukir karya. Tinta yang setia.
  • Si dosa putih tidak akan pernah lelah pergi mencari kesatuan yang kuasa.
  • Setiap hari dimana hari ke-empat itu diciptakan aku akan berusaha membuat pukulan baru yang amatiran.
  • Jika aku akan mengangis, maka air akan tertetes dari kedua ciptaan Tuhan yang Maha Dahsyat.
  • Janganlah kau pernah merendahkan diri-Nya dihadapanku, karena apa yang menjadi perbuatanmu adalah kasusku.
  • Tak tegakah, sungguh tak tertanam tega jika kau berani berbuat salah pada-Nya.
  • Tangan ciptaan-Nya ini, datang ke dataran nafas, tempat nyawamu.
  • Seperti apa yang pernah kurasa, jika suatu pertemuan itulah bukan takdir, tapi memang hal yang ditentukan.
  • Aku akan selalu percaya walau itu salah, karena itulah yang dikehendaki apa adanya.
  • Tak ada yang menyadari aku yang duduk sendiri ditemani bayang-bayangmu di sini.
  • Sungguh kagum atas cipta-Mu.
  • Jika aku akan menangis, maka engkaulah pengamat itu.
  • Betapa bodohnya si dosa putih, hanya hawa duniawi yang digemparkan. Tidak paham dengan Tuhan!
  • Ya, ya, ya aku akan pergi dan mundur dari keusangan dunia ini, yaitu duniamu dan dunia-Nya.
  • Sekali aku akan menatap, di sana aku jadi pengamat.
  • Kapan aku akan mendengar jawaban dari-Nya? Tentu setiap waktu aku bisa! Mendambakan suara suci itu.
  • Seperti atau umpama semut.
  • Aku akan selalu jadi yang tertinggal. Bagaikan angin.
  • Bertobat. Aku ingin sekali menjadi seorang yang kejam tapi itu sulit.
  • Dihadapan sana, topeng-topeng ini menyelamatkan.
  • Tidak akan membalas, tapi aku ingin menghancurkan apa yang telah menghalangi jalanku.
  • Semut merah jika menggigit menimbulkan perih sakit sekali, selanjutnya gatal hingga merah. Aku dulu seperti itu.
  • Semut hitam yang tujuan utamaku ini. Jika menggigit tidak menimbulkan rasa, tapi hanya gatal dan merah hingga berbekas.
  • Topik aku minum kopi. Sedikit gula tidak cukup.
  • Syukur dan diam. Pusat hidup? Kediaman yang terpuji.
  • Aku tidak pernah menyembah topeng!
  • Pada waktu yang belum lampau itu, aku yang terpesona melihat dia.
  • Saat angin menghembus kencang, pepohonan yang memiliki daun lebat menari sangat indah.
  • Ukiran tangan si dosa putih ini menyakitkan.
  • Jika raut wajah langit sedih, maka air mata ini akan jatuh ke bumi.
  • Jika kilat yang mengutip beberapa potret hidup, maka akulah diantaranya.
  • Jika aku mengangis, bukankah itu untukmu?
  • Jika aku yang tertawa, hanyalah mainan untuk diri.
  • Jika aku terdiam, maka hidupku tanda tak jalan.
  • Dia, Kuasa-Nya yang mulia. Kuciptakan tulisan itu.
  • Sekarang si dosa putih telah binasa kah? Tapi tidak sepenuhnya.
  • Mereka hanya pergi meninggalkan jejak.
  • Si dosa putih sekarang tinggal bukti.
  • Melihat, menatap, meraba dan merasakan sang sosok idola yang telah tiada.
  • Dia, beliau yang kukagumi di lembar baru dengan segala kemampuan dia. Tapi aku bukan pemujanya.
  • Seperti apa yang diajarkan maestro guru pada kami, si bodoh. Apa ini semua?
  • Hanya guratan sementara, tak terbanding atau tak bersandar?
  • Banyak huruf-huruf yang menyatu sebagaimana kulihat.
  • Aku ingin pikiranku yang dulu! Aku ingin ingatanku yang dulu!
  • Dimana segala kekhawatiran, kebijaksanaan, kesedihan, kehampaan dan kekosongan hidupku menyelimutiku.
  • Aku hanya bisa mencari kebesaran Tuhan pada waktu kesuramanku.
  • Masa lampau itu aku sendirian, hidup tanpa penghargaan. Sedikit ulasan.
  • Hanya dengan pandangan mereka aku dibuatnya termenung.
  • Hawa dingin yang pernah dirasa, kurasa di dunia khayal tanpa raba.
  • Aku hanya butuh waktu beberapa menit untuk menentukan segala langkahku.
  • Kini, teknologi zaman pembaharuan.
  • Si dosa putih, kutanya lagi! Apakah kau sudah binasa?!
  • Aku benar-benar lebih menderita sekarang, kehilangan akal yang buruk.
  • Hidup kebebasan bertindak, tapi teratur. Itu yang tidak pernah ada.
  • Mereka bilang harus bersyukur.
  • Aku terdiam paham. Jika aku terus diam maka kau ada di tanganku.
  • Tapi mengapa setiap saat seperti ini! Aku selalu tak temukan jawabanku! Aku tak bisa lakukan apapun!
  • Selalu Tuhan yang menolongku. Aku sangat berhutang segalanya pada Tuhanku.
  • Diantara manusia hutang budi yang terkait selamanya.
  • Karma yang tak terhapus itu sulit, jika ia.
  • Tak pernah ada rasa sadar yang diukir dalam suratku?
  • Benar itu? Kurasa salah! Aku tau itu!
  • Catatan pengakhiran ini akan kubuat dengan : Aku bersyukur apapun yang kujalani sekarang. Walau banyak impian dan memohon. Terima kasih.

 

Pos ini dipublikasikan di Iseng, Umum dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s